Hotel Dekat Bungin Island

Desa Pulau Bungin yang untuk bisa sampai di sana, perlu waktu kurang lebih enam jam, kalau dari Mataram, Lombok. Kalau dari Sumbawa Barat, hanya perlu waktu sekitar dua jam saja.Menurut cerita, penghuni pertama Pulau Bungin, sekaligus nenek moyang mereka adalah armada laut Panglima Mayo. Konon adalah seorang pejuang yang berasal dari Bajo, Sulawesi Selatan. Beliau singgah dan tinggal di Pulau Bungin karena terdesak saat melawan penjajah Belanda pada tahun 1818. Bahasa sehari-hari warga Bungin adalah  bahasa Bajo, buka bahasa Sumbawa. Kata Bungin berasal dari “bubungin” yang dalam bahasa Bajo berarti tumpukan pasir putih di tengah samudera.

Desa Bungin memang sungguh padat merayap. Tercatat ada 847 Kepala Keluarga, terdiri dari 2.826 jiwa memadati desa seluas 8 hektar itu. Luas yang terus bertambah seiring bertambahnya penduduk di sana. Adat desa Bungin mengharuskan pasangan yang berniat menikah untuk membangun lokasi rumah lebih dulu sebelum menikah.

Lokasi rumah disusun dari bebatuan karang yang mereka kumpulkan bersama-sama. Itu sebabnya luas pulau Bungin semakin hari semakin bertambah. Kabarnya, tahun 2002 luasnya masih 6 hektar, saat ini luasnya sudah mencapai 8 hektar.

Menarik, mencermati konsep adat warga Bungin untuk mempersiapkan lokasi rumah sebelum menikah. Membangun bahtera rumah tangga bukanlah hal main-main. Perlu persiapan matang dan ketelatenan. Bayangkan mereka harus membangun sebuah lokasi rumah seluas kurang lebih 6x12 meter dari tumpukan batu karang, yang pastinya tak mungkin terkumpul dalam waktu sehari dua, bukan? Sayang, rumah batu, menjadi ukuran kemakmuran bagi warga Bungin. Padahal struktur rumah panggung lebih tepat untuk daerah Bungin, yang bisa kapan saja mengalami banjir rob ketika air laut pasang misalnya.

Jalanan di desa Bungin lebih mirip gang. Jajaran rumah panggung berderet rapat. Jarak antara rumah yang satu dan yang lain kira-kira tak lebih dari dua meter. Beberapa malah saling bersenggolan atapnya. Orang-orang dewasa tampak tak terlalu sibuk siang itu. Beberapa duduk-duduk di bawah rumah panggung mereka, sembari menunggui dagangan mereka.

Mayoritas warga desa Bungin mencari nafkah dengan melaut. Bisa berbulan-bulan para lelaki Bungin melaut. Tinggalkan anak istri mereka di rumah. Sudah biasa ditinggal berbulan-bulan ke laut kata seorang ibu. Rata-rata ibu-ibu berdagang untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga ketika suami mereka pergi melaut. Berdagang apa saja, ikan bakar, kerang, teripang, nasi bungkus, atau buka warung kecil di bawah rumah mereka. 

 Kambing-kambing berseliweran mencari makan di tumpukan sampah. Kabar bahwa kambing di desa Bungin makan kertas memang bukan bohongan. Sungguh mereka makan kertas, bahkan plastik! Karena struktur pulau tersusun dari karang, memang tak ada tumbuhan yang bisa tumbuh di sana. Jadilah kambing-kambing itu memakan kertas, plastik, bahkan kain. Beberapa ibu yang sedang duduk-duduk di bawah rumah panggung bercerita, bahkan mereka harus berhati-hati ketika menjemur pakaian. Kalau terjangkau oleh kambing-kambing itu, ludeslah jemuran dilahapnya.


Address

Indonesia , 84353, Nusa Tenggara Barat, Sumbawa, Alas, Pulau Bungin